Langsung ke konten utama

Kerjaan Anak Teknik Kimia (a.k.a. Tekkim)

Kerjaan Anak Teknik Kimia (a.k.a. Tekkim)

Siang ini, saya buka-buka file lama (kuliah s1) di harddisk eksternal saya, mencari sesuatu yang bisa dibaca. Ya, beberapa waktu terakhir ini, saya sudah banyak lupa tentang pelajaran/ilmu yang saya dapat di bangku s1. Dan tiba-tiba sedang ingin tobat untuk belajar lagi. :D
Setelah mengobrak-abrik file saya, ternyata saya menemukan banyak ebook (ketawan g pernah dibaca). Saya buka dan baca satu e book berjudul: Elementary Principles of Chemical Processes. Buku yang bagus untuk mengenal prinsip-prinsip dasar teknik kimia, terutama tentang neraca massa dan neraca panas. Ditulis dengan bahasa yang ‘enak’, serta dilengkapi dengan contoh-contoh perhitungan dan studi kasus yang mudah dimengerti.
Tapi bukan neraca massa dan panas yang menarik hati saya, melainkan satu chapter yang berjudul “What Some Chemical Engineers Do for a Living”. Chapter ini sengaja dituliskan di awal (Chapter I) oleh si author untuk memberikan gambaran tentang teknik kimia. Beliau tidak mendefinisikan teknik kimia dengan kata-kata yang strict, tetapi memberikan contoh nyata sebagai gambaran. Which I think is a very good idea!! Nah mau tau apa yang dia tulis?
Berikut adalah sebaran kasar pekerjaan para lulusan teknik kimia dari buku tersebut:
  1. sekitar 45% dari satu kelas dalam jurusan teknik kimia bekerja di pabrik yang besar, meliputi: pabrik kimia, petrokimia, kertas, plastik, tekstil, dan material lainnya.
    Di Indonesia, contohnya: pabrik semen (Holcim), pabrik pupuk (Pusri, Kujang), pabrik kimia (candra asri, dow chemical), pabrik susu (sari husada, nestle), makanan (unilever, orang tua), dan masih banyak lagi. Saya juga memasukkan kategori oil-gas company disini, contohnya: Pertamina, Total, BP, Chevron, dll).
  2. 35% bekerja di lembaga pemerintahan dan konsultan; berhubungan dengan regulasi lingkungan dan kontrol polusi; dan juga bekerja di perusahaan yang tidak berhubungan secara tradisional dengan teknik kimia (seperti: mikroelektronik dan bioteknologi).
    Termasuk dalam kategori ini adalah LIPI, BPPT, BLH, dan departemen-departemen lainnya. Untuk yang mikroelektronik dan bioteknologi… I don’t have any idea. I’ll write down here as soon I get info :D
  3. 10% meneruskan pendidikannya ke jenjang S2 dan bekerja di bidang pengembangan produk dan proses. Ada juga yang meneruskan ke jenjang S3 yang nantinya akan berkecimpung di bidang penelitian atau menjadi dosen di universitas.
    Saya termasuk golongan ini sepertinya :D
  4. 10% lainnya meneruskan jenjang pendidikan tetapi di luar teknik kimia, seperti bisnis, hukum, dll.
  5. Beberapa lulusan bekerja di perusahaan yang memproduksi ‘specialty chemical’, seperti obat, zat warna, kosmetik, dll. Awalnya perusahaan ini hanya memperkerjakan orang kimia, tetapi dengan berjalannya waktu dan tingginya kompetisi, mereka sadar akan kebutuhan sarjana tekim untuk hal-hal seperti: efisiensi proses, transfer panas, kontrol suhu, emisi polusi, dll.
  6. Beberapa lulusan bekerja di perusahaan mikroelektronik, semikonduktor – menyangkut proses reaksi kimia dan proses fisik dalam rangka membuat film via ‘chemical vapor deposition’.
  7. Lulusan dengan konsentrasi di biokimia dan mikrobiologi dapat bekerja di bidang pengembangan produk menggunakan enzim, atau juga berhubungan dengan rekayasa genetika (misal DNA), dll.
  8. Ada juga lulusan yang bekerja di perusahaan polimer; menggembangkan produk membrane untuk kepentingan desalinasi air laut atau juga untuk separasi gas. Selain itu, membrane juga digunakan untuk applikasi yang lebih advance, seperti untuk ginjal buatan (‘menyaring’ darah).
  9. Dan masih banyak lagi.
Tekkim 2004 beraksi dalam Kuliah Kerja di Krakatau Steel
Walaupun sebaran diatas tidak bisa dibilang akurat 100%, saya kira poin-poin tersebut cukup untuk memberi gambaran awal. Untuk masalah presentasinya, karena saya belum ada data, jadi belum bisa dibandingkan. Tetapi mungkin kalau bisa diingat-ingat (mengingat siapa-siapa saja teman saya dan juga dimana tempat mereka bekerja) secara  cepat, mungkin lebih dari 50% menduduki pekerjaan nomer 1. Sedangkan untuk pekerjaan nomer 5-8, contoh-contoh pekerjaan itu sepertinya kurang cocok (tidak berlaku di Indonesia), karena keberadaannya yang masih terbatas (atau saya yg kurang gaul) :D
Dari contoh-contoh diatas, dapat dikatakan bahwa: bidang kerja tekkim pada dasarnya meliputi proses design dan transformasi bahan mental menjadi suatu produk yang diinginkan. Applikasi yang luas mulai dari makanan, obat, bahan kimia sampai dengan BBM.
Jenis aktivitasnya bermacam-macam meliputi penelitian (baik penelitian fundamental/eksploratif dan juga penelitian proses), pengembangan proses, teknik proses, teknik proyek, teknik konstruksi, dan evaluasi ekonomi. Tentu saja semua tidak dikerjakan oleh orang teknik kimia seorang diri, melainkan dengan kolaborasi dengan orang dari bidang-bidang lainnya: sperti teknik mesin, teknik sipil, orang kimia, dan juga orang ekonomi.
Info tambahan, dulu saya banyak mendengar orang yang suka kimia salah jurusan kalau masuk teknik kimia. Menurut saya sih gak salah juga karena kuliah teknik kimia harus punya basic tentang kimia juga. Tapi perlu diingat, matematika dan fisika juga memiliki peran yang penting. Dan tidak perlu khawatir, nanti kalau sudah terjun ke real world, kita pasti akan belajar juga dengan sendirinya :)
Ohya, last sentence, yang (menurut saya) lebih penting dalam proses pendidikan adalah terbentuknya kepribadian yang baik, kemampuan problem solving dan analytical skill yang bagus. Dengan berbekal ini, lulusan teknik kimia saya kira dapat bekerja dan berkarya dengan baik dimana saja mereka berada: baik yang bekerja di pabrik kimia, di bank, di universitas, maupun dirumah :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kalor Jenis Benda dan Kapasitas Kalor

Tidak seperti besaran fisika umumnya, kalor adalah besaran yang tidak dapat dilihat. Jumlah kalor yang diserap atau dilepas suatu benda hanya dapat diukur dengan mengamati pengaruhnya terhadap bahan di sekitarnya. Untuk dapat merumuskan jumlah kalor, perhatikan percobaan berikut.





Pada gambar (a), kedua bejana diisi dengan zat cair yang sejenis dan dipanaskan dalam selang waktu yang sama. Ternyata pada bejana yang berisi zat cair lebih sedikit, suhunya lebih tinggi. Jadi, jumlah kalor yang diserap benda berbanding lurus dengan massa benda ( Q ∞ m). Pada gambar (b), kedua benda diisi zat cair yang sejenis dan sama massanya. Ternyata pada selang waktu yang sama, bejana yang dipanasi dengan api lebih besar, memiliki suhu yang lebih tinggi. Jadi, jumlah kalor sebanding dengan kenaikan suhu (Q ∞∆T). Pada gambar (c), bejana A diisi dengan alkohol dan bejana B diisi dengan air. Massa  kedua zat cair di dalam masing-masing bejana sama. Ternyata dalam selang waktu yang sama, suh…

PRINSIP KERJA CERMIN CEMBUNG

PRINSIP KERJA CERMIN CEMBUNG

Pendahuluan
cermin adalah Cermin yang dibuat paling awal adalah kepingan batu mengkilap seperti obsidian, sebuah kaca volkanik yang terbentuk secara alami. Cermin obsidian yang ditemukan di Anatolia (kini Turki), berumur sekitar 6000 SM. Cermin batu mengkilap dari Amerika tengah dan selatan berumur sekitar 2000 SM. Cermin dari tembaga yang mengkilap telah dibuat di Mesopotamia pada 4000 SM dan di Mesir purba pada 3000 SM. Di China, cermin dari perunggu dibuat pada 2000 SM.
Cermin kaca berlapis logam diciptakan di Sidon (kini Lebanon) pada abad pertama M,dan cermin kaca dengan sandaran dari daun emas disebutkan oleh seorang pengarang dari Romawi bernama Pliny dalam buku Natural History miliknya, yang dikarang sekitar tahun 77 M. Orang Romawi juga mengembangkan teknik menciptakan cermin yang kasar dari kaca hembus yang dilapisi dengan timah yang dilelehkan.Cermin parabola pantul pertama kali dideskripsikan oleh fisikawan dari Arab bernama Ibn Sahl…